Postingan

Menampilkan postingan dengan label Biologi

Pengertian Promotor dan Daerah Penyusun Promotor (Core, Proximal, Distal)

• Promoter merupakan daerah pada DNA yang berlokasi pada bagian awal dari Gen dan berfungsi sebagai pelekatan RNA polimerase dan faktor transkripsi. Beberapa komponen yang berhubungan antara Faktor Transkripsi, RNA Polimerase, dan TATA box.

• Daerah promoter terdiri dari daerah:

a. Core Daerah minmum untuk menjalankan transkripsi. Terdiri dari, Transcription Start Site, RNA plimerase binding site, dan Transcription binding site.

b. Proximal Daerah yang cenderung memiliki elemen regulator utama yang mempengaruhi transkripsi.

c. Distal Daerah yang mungkin memiliki elemen regulator tambahan yang seringkali pengaruhnya lebih rendah ketimbang promoter proksimal

Pengertian singkat dan fungi Portein Transmembran

Protein transmembrane merupakan protein integral yang terletak pada membrane sel. Terdapat protein transmembran fungsional yang memiliki peran yang sangat penting. Fungsi protein transmembrane sangatlah beragam dan secara umum dibagi menjadi berfungsi sebagai reseptor, channel, situs pengenalan dan juga menjaga stabilitas membran.

Perbedaan pengertian Hydropathy plots dengan Solubility Plot beserta contohnya

Gambar berikut merupakan Hydropathy plots dari sekuens asam amino yang dianalisis. Hydropathy plots merupakan plot yang memvisualisasikan hidrofobisitas sepanjang sekuens polipeptida. Pada plot ini dapat terihat pula hidropobisitas dan hidofiliksitas. Dengan menggunakan plot ini, dapat diketahui bagian mana dari sekuens protein yang bersifat hidrofobik atau hidrofilik.


Berbeda dengan Hydropathy plots analisis kedua dengan hasil dibawah menunjukkan prediksi solubilitas suatu protein. Hydrofobisitas menjadi penting karena akan menjadi salah satu faktor penentu pelipatan polipeptida yang akan menentukan fungsi dari suatu protein. Solubilitas dari protein sangat penting untuk diketahui sebagai salah satu faktor yang diperlukan dalam proses analisis fungsional suatu protein. Solubilitas protein itu sendiri dipengaruhi oleh komposisi dan sekuens asam amino, berat molekul, konformasi dan kandungan asam amino polar dan nonpolar.



Pengertian dan Perbedaan Struktur primer, sekunder, tersier, dan kuartener protein secara singkat

• Struktur primer adalah struktur paling sederhana. Struktur primer ini terjadi karena residu-residu asam amino saling berikatan karena adanya ikatan peptida. Kedua ujung rantai polipeptida terhubung anatara gugus karboksil (C-terminal) dan ujung amino (N-terminal) berdasarkan sifat dari gugus bebas. Struktur primer protein yang terbentuk berupa sekuens asam amino yang linear.

• Struktur sekunder protein merupakan struktur 3 dimensi dari segmen lokal suatu protein. Struktur ini terdiri dari dua struktur regular yaitu struktur sekunder adalah α-helix dan β-sheets serta terdapat pula struktur irregular yakni coil dan loop.

• Struktur tersier merupakan sebuah untaian rantai polipeptida dengan beberapa struktur sekunder. Sisi sisi dari untaian polipeptida dapat saling berinteraksi dan membentuk ikatan yang pada akhirnya akan menentukan struktur 3 dimensi dari protein ini.

• Struktur kuartener protein tersusun dari beberapa rantai polipeptida dalam bentuk kompleks subunit

Pengertian model evolusi DNA JC69, HKY85, dan GTR serta perbedaan ketiganya

• JC69 (Jukes-Cantor): merupakan model substitusi paling sederhana. Model ini mengasumsikan bahwa frekuensi subtitusi basa dan juga laju mutasi memiliki nilai yang sama. Diasumikan pula bahwa setiap terjadi mutase, semua basa memiliki peluang yang sama untuk menggantikan

• HKY85: Metode membedakan laju transisi dan transversi serta memungkinkan setiap basa untuk memiliki frekuensi yang berbeda.

• General Time Reversible (GTR): mengasumsikan matriks substitusi yang simetris dan time reversible. (Laju A->T, sama dengan T->A) Setiap pasangan substitusi memiliki laju yang berbeda dan frekuensi masing-masing basa juga memiliki nilai yang berbeda.

Analisis Bayesian Markov Chain Monte Carlo Biologi Informatika

 Pencarian pohon pada analisis Bayesian menginkorporasikan strategi sampling acak berlandaskan prosedur Markov Chain Monte Carlo. MCMC dirancang sebagai prosedur “Pendakian Bukit” yang mencari “likelihood score” yang tinggi dan lebih tinggi sembari mencari topologi pohon. Terkadang pencarian mendapatkan skor yang rendah akibat pemilihan acak. Namun pohon dengan skor yang tinggi akan lebis sering didapatkan. Saat MCMC mencapai daerah dengan skor tinggi, suatu set pohon yang mendekati optimal disusun untuk membentuk pohon consensus.

Penjelasan fungsi dan bagian bagian pohon filogenetik

Pohon filogenetik merupakan diagram yang berfungsi untuk menunjukkan hubungan evolusi antar spesies, organisme atau gen yang memiliki nenek moyang bersama. Selain itu, pohon filogenetik juga berfungsi untuk membantu proses analisis klasifikasi makhluk hidup melalui hubungan evolusi.



Perbedaan Motif dan Domain Protein

Definisi

a.motif protein

Motif protein merupakan segmen pendek berpola yang lestari pada struktur tiga dimensi protein, antar protein dengan fungsi yang mirip.

b.domain protein

Domain merupakan struktur tiga dimensi yang independen dan stabil dari suatu protein. Struktur ini dapat muncul, berevolusi, dan nemiliki fungsi secara independent dengan bagian protein lain. Domain yang sama dapat pula muncul pada protein yang berbeda.

Tipe analisis

a) regular expression

Merupakan metode yang dilakukan untuk menampilkan kelompok keluarga sekuens secara ringkas.

b) statistical model. Manakah yang memiliki predictive powerlebih kuat?

Metode statistical model menampilkan kelompok keluarga ekuens dengan memasukan probabilitis informasi hasil multiple sequence alignment.

Metode ini merupakan metode yang lebih kuat dikarenakan mekanisme analisis yang digunakan lebih mendalam dan menggunakan system skoring. Sistem skoring ini dapat membantu untuk meningkatkan akurasi dan sensitifitas terhadap perbedaan motif dan domain.

Perbedaan PSIBLAST dengan BLAST

PSIBLAST (Position-Specific Iterated BLAST), merupakan metode yang digunakan untuk mencari kesamaan query sekuens protein pada semua sekuens protein dalam satu atau lebih database protein. PSI BLAST, berbeda dengan BLAST yang hanya mensejajarkan sekuens. PSI BLAST menggunakan hasil dari BLAST yang disejajarkan dan akan menghasilkan pola residu yang terkonservasi. Hasil tersebut kemudian digunakan dalam proses pencarian selanjutnya. Proses ini diulang berkali-kali hingga tidak ditemukan lagi hasil pencarian dari database. Kemudian, PSIBLAST menggunakan position-specific scoring matrices (PSSMs) untuk menilai kesamaan antar query sekuens dengan database.

Perbedaan high throughput sequencing 16 S RNA dengan Shotgun metagenomic sequencing

high throughput sequencingShotgun metagenomic sequencing
high throughput sequencing of amplified 16S rRNA gene fragment, merupakan metode sequencing yang menargetkan gen 16S rRNA. Amplikon dari sampel yang terpisah diberikan barkode molekolar, dikelompokan dan disekuensing. Setelah melalui proses sequencing data mentah dianalisis melalui jalur bioinformatika yang termasuk pemotongan, koreksi galat dan perbandingan dengan database referensi 16S. Setelah pembacaan untuk peringkat filogenetik dilakukan, profil taksonomi dapat dibuat.Shotgun metagenomic sequencing, merupakan Teknik untuk mendeterminasi sekuens dari keseluruhan kromosom dan genome yang didasari oleh fragmen DNA acak yang disusun oleh computer dengan menemukan akhir yang bertumpang tindih. Secara umum, alur kerja metode ini meliputi pemotongan, dan komparasi dengan database referensi untuk menyusun profil taksonomi. Karena Shotgun metagenomic sequencing mensekuens seluruh informasi genetik, maka data yang dihasilkan dapat digunakan untuk analisis tambahan seperti binning dan profiling fungsi metabolik.

Prinsip Cara Kerja Mass spectrophotometry (MS) dan nuclear magnetic resonance (NMS)

Mass spectrophotometry (MS), Nuclear magnetic resonance (NMS):
merupakan metode analisis yang mengukur rasio masa-muatan dari suatu ion. Sampel akan diionisasi menggunakan ionizer menjadi sekumpulan partikel berbeda dan bermuatan. Partikel digerakan oleh medan elektomagnet menuju detector melewati pembelokan oleh magnet. Setiap partikel yang berbeda muatan akan membentuk sudut pembelokan yang berbeda yang kemudian akan didteksi oleh detector. Pada akhirnya, akan didapatkan data kelimpahan ion suatu senyawa serta datarasio masa-muatan dari suatu ion. merupakan metode pengamatan nucleus dalam medan magnet yang kuat dan diganggu oleh medan magnet lemah yang berosilasi sehingga memunculkan sinyal elekromagnetik yang mewakili karakteristik sampel. Pada prinsipnya, suatu molekul memiliki nuclei yang bermuatan dan memiliki putaran tertentu yang akan perpindah dari tingkat energi rendah menuju tingkat energi tinggi bila berada dibawah kondisi medan magnet kuat eksternal. Saat perputaran kembali menuju tingkat energi dasarnya dari tingkat energi , energi akan dilepaskan dan menjadi sinyal yang dapat dideteksi dan diukur.

Pengertian Distance-based, dan Character-based Pohon Filogenetik

MetodePrinsipKekuranganKelebihan
Distance-basedMerupakan metode analisis filogenetik yang didasari oleh pengukuran jarak genetik antar sekuens yang dibandingkan. Kemudian, data tersebut diolah menggunakan matriks untuk menyusun pohon filogenetik. Pada metode ini, sekuens dengan kemiripan yang paling besar dikelompokkan terlebih dahulu. Selanjutnya, hasil tersebut dibandingkan dengan sekuens lain secara iterative sehingga dihasilkan suatu pohon filogenetik.Tidak diperuntukan untuk memprediksi proses evolusi. Hanya digunakan untuk melihat gambaran umum filogenetik. Metode ini sangat cepat
Character-basedSecara langsung menggunakan sekuens yang disejajarkan. Metode ini menggunakan semua kemungkinan susunan pohon filogenetik yang kemudian disesuaikan dengan suatu kriteria.Membutuhkan waktu yang lama.Dapat memprediksi sekuens leluhur.Tidak ada informasi sekuens yang dibuang

Tinjauan Pustaka: Pengertian Serangga Aerial Nokturnal

Keanekaragaman organisme nokturnal sangatlah tinggi, bahkan lebih dari 60% invertebrata merupakan nokturnal (Grubisic et al., 2018). Komunitas serangga nokturnal terdiri dari beragam jenis serangga dari kelompok pakan yang berbeda dari mulai hama, predator, hingga parasitoid (Hashim et al., 2017). Salah satu kelompok serangga tersbut adalah serangga aerial nokturnal. Dari segi kelimpahan, serangga aerial nokturnal didominasi oleh kelompok Neuroptera, Ephemeroptera, Lepidoptera, Trichoptera, Hemiptera, Coleoptera, Hymenoptera, Diptera, dan Dermaptera (Owens et al., 2019). Salah satu ciri utama yang membedakan kelompok serangga tersebut dengan serangga diurnal adalah waktu aktivitas yang berkaitan dengan adaptasi organ fotoreseptif.

Kebanyakan serangga memiliki organ fotoreseptif berupa mata majemuk dan ocelli. Mata majemuk terdiri dari unit sensitif cahaya bernama ommatidia dalam jumlah yang banyak. Sebuah ommatidium memiliki berkas sel fotoreseptor yang memanjang. Sel tersebut dapat digolongkan berdasarkan sensifitas terhadap spektrum cahaya spesifik (Shimoda & Honda, 2013). Leluhur serangga memiliki tiga tipe fotoreseptor atau opsin. Tipe pertama sensitif terhadap panjang gelombang ultraviolet (UV, 300-400 nm). Tipe kedua pada panjang gelombang yang pendek (biru, 400-480 nm). Tipe ketiga pada panjang gelombang yang panjang (hijau hingga kemerahan, 480-600 nm). Selanjutnya, serangga berevolusi berdasarkan relung dan kondisi cahaya pada lingkungan yang diikuti oleh spesialisasi sensitivitas spektrum cahaya (Owens et al., 2019).

Pada serangga diurnal seperti kupu-kupu dan capung, opsin berkembang untuk dapat membedakan spektrum cahaya. Berbeda secara kontras, serangga nokturnal dan subteran (afotik), seringkali kehilangan satu atau lebih tipe opsin dan mengalami pengurangan sensitivitas terhadap spektrum cahaya. Pengelihatan serangga nokturnal sangat teradaptasi dalam lingkungan minim cahaya. Pada ngengat dan sebagian kumbang nokturnal, adaptasi ditunjukan oleh kemampuan mata superposisi yang 1000 kali lebih sensitif ketimbang mata aposisi pada dimensi yang serupa. Adaptasi yang berbeda dilakukan oleh kelompok lebah, tawon, dan semut nokturnal yang memiliki ocelli yang terspesialisasi. Ocelli merupakan mata sederhana yang berguna untuk mendeteksi cahaya, pergerakan, dan orientasi. Berbeda dengan kerabat diurnalnya, serangga tersebut memiliki ukuran ocelli yang berbeda secara signifikan. Lebah dan kecoa nokturnal memiliki ocelli yang kurang sensitif terhadap sinar UV. Hal tersebut sebagai bentuk adaptasi pada lingkungan yang minim cahaya UV. Meskipun secara umum serangga nokturnal aerial beradaptasi dengan baik pada lingkungan minim cahaya, bentuk adaptasi yang dilakukan sangatlah beragam (Owens et al., 2019).

Pengertian Cahaya Malam Buatan

Penggunaan istilah polusi cahaya seringkali digunakan untuk merujuk pada sumber cahaya yang mengganggu pandangan manusia terhadap langit malam. Fenomena tersebut menunjukan dampak polusi cahaya secara astronomis. Pada kasus dampak polusi cahaya terhadap ekosistem, terminologi yang digunakan adalah ‘polusi cahaya ekologis’ (Longcore & Rich, 2004). Salah satu polusi cahaya ekologis yang sering menjadi objek penelitian adalah cahaya malam buatan. Cahaya malam buatan berasal dari sumber antropogenik seperti lampu jalanan dan bangunan (Thompson et al., 2019). Cahaya malam buatan memiliki beragam panjang gelombang dan intensitas bergantung dengan sumber cahaya yang ada. Berdasarkan sejarah, sumber cahaya malam buatan pada awalnya berasal dari lampu sodium bertekanan tinggi yang mengeluarkan emisi dengan spektrum cahaya tampak kuning hingga jingga. Selain itu digunakan juga lampu merkuri dengan spektrum luas yang tampak lebih putih. Lampu tersebut juga menghasilkan emisi radiasi sinar UV dalam jumlah yang besar. Baru baru ini, dengan alasan lingkungan dan ekonomi, penggunaan sumber cahaya buatan mulai bergeser pada alternatif yang lebih efisiens dari segi energi, yaitu lampu LED. Lampu jenis ini dapat memancarkan beragam jenis spektrum cahaya monokromatik sesuai dengan keinginan. Lampu LED pada umumnya akan memancarkan lebih banyak cahaya biru yang mulai menjadi perhatian karena dampak kesehatan yang ditimbulkan (Owens et al., 2019).

Pengaruh Cahaya Terhadap Serangga

Pengaruh Cahaya Terhadap Serangga

Pertumbuhan infrastruktur akibat perkembangan wilayah urban membawa dampak besar bagi lingkungan. Dari berbagai jenis polusi yang dihasilkan, cahaya malam buatan merupakan salah satu bentuk polusi antropogenik yang jumlahnya mengalami peningkatan secara drastis. Peningkatan jenis polusi ini disebabkan oleh adanya aktivitas pembangunan dan eletrifikasi di daerah urban dan suburban. Pada tahun 2014, 24% permukaan bumi terpapar sinar cahaya buatan. Angka tersebut tergolong besar jika dibandingkan dengan tutupan lahan pertanian yang hanya sebesar 12% (Owens et al., 2019). Jumlah polusi cahaya malam buatan juga terus meningkat sebesar 2-6% dalam satu dekade terakhir. Hal tersebut menjadikan polusi cahaya menjadi salahsatu perhatian dalam permasalahan lingkungan dan ekologi secara global pada abad ke-21 (Grubisic et al., 2018).\

Cahaya malam buatan secara umum didefinisikan sebagai cahaya malam yang bukan berasal dari sumber alami. Keberadaan cahaya malam saat ini berasal dari beragam sumber dari mulai lampu sodium, merkuri hingga LED. Campuran ketiga jenis lampu tersebut, secara bersamaan dapat menghasilkan panjang spektrum yang beragam (Owens et al., 2019). Dalam konteks astronomis, keberadaan cahaya malam buatan tersebut sering kali dianggap sebagai polusi karena mengganggu pandangan manusia kepada langit malam. Tidak hanya dalam konteks astronomis, keberadaan cahaya malam juga dianggap sebagai polusi yang berdampak negatif terhadap ekosistem (Longcore & Rich, 2004).

Cahaya malam buatan memiliki beragam dampak lingkungan, dan baik atau buruknya tergantung pada penggunaannuya. Pada daerah pertanian, seringkali keberadaan cahaya buatan dapat diatur dari mulai jenis sumber, intensitas, dan panjang gelombang tertentu untuk memanipulasi interaksi hama tanaman dan predator (Ogino et al., 2016). Perangkap serangga yang menggunakan sumber cahaya buatan dapat memperangkap beragam hama serangga aerial nokturnal. Penggunaan perangkap tersebut didasari oleh fenomena beberapa hama serangga yang tertarik pada sumber cahaya (Shimoda & Honda, 2013). Pada aplikasi lain, penerangan lahan pertanian menggunakan cahaya LED dapat secara selektif menarik serangga predator dan menurukan populasi hama (Ogino et al., 2016). Pada sistem yang terkontrol, penggunaan cahaya buatan terbukti dapat membawa dampak positif bagi manusia serta meminimalisir dampak polusi cahaya pada komunitas serangga lain. Meskipun di satu sisi penggunaan cahaya malam dapat membawa hal positif bagi manusia, di sisi lain cahaya malam menjadi polusi yang mengancam keberadaan serangga nokturnal.

Serangga nokturnal memiliki peran penting dalam ekosistem. Salah satu perannya adalah sebagai pollinator beragam tumbuhan termasuk pada bidang pertanian. Meskipun teknologi pertanian saat ini sangatlah maju, manusia masih mengandalkan pollinator alami termasuk serangga nokturnal meskipun jarang disadari. Pollinator nokturnal yang tidak hanya penting bagi bidang pertanian tetapi juga ekosistem secara keseluruhan (Vanbergen, et al., 2019; Owens et al., 2019). Dalam skala yang lebih besar, serangga pollinator nokturnal telah diamati ikut berperan dalam proses polinasi beragam jenis tumbuhan pada beragam bioma dari mulai hutan hujan tropis, savanah, hingga hutan konifer temperata (Macgregor, et al., 2015). Salah satu penelitian yang ada, menunjukan bahwa polusi cahaya menyebabkan penurunan kunjungan serangga pollinator pada bunga Cirsium oleraceum sebesar 62% yang mengakibatkan penurunan produksi buah sebesar 13% (Grubisic et al., 2018).

Meskipun memiliki peran besar bagi lingkungan, di berbagai macam tempat, populasi serangga pollinator mengalami penurunan (Vanbergen, et al., 2019). Sama seperti kelompok serangga diurnal populasi serangga nokturnal juga memiliki beberapa ancaman yang berasal dari permasalahan fragmentasi habitat, perubahan iklim dan penggunaan zat kimia pada bidang pertanian. Namun, tidak seperti serangga diurnal, serangga pollinator nokturnal memiliki ancaman tambahaan yaitu polusi cahaya malam buatan (Macgregor, et al., 2015). Peningkatan mortalitas dari serangga yang terpapar polusi cahaya juga telah teramati (Grubisic et al., 2018). Pada dosis non letal, secara umum, cahaya malam buatan dapat memengaruhi perkembangan, pergerakan, pencarian pakan, predasi dan reproduksi serangga nokturnal (Owens et al., 2019). Telah teramati juga bahwa serangga nokturnal sangatlah tertarik pada sumber cahaya buatan. Hal tersebut mengakibatkan kunjungan serangga pollinator nokturnal pada bunga menurun secara signifikan (Knop et al., 2017). Mengingat peran serangga nokturnal dalam ekosistem dan keberadaannya yang terancam akibat polusi cahaya, penelitian terhadap pengaruh polusi cahaya menjadi penting untuk dilakukan.

Telah diketahui bahwa wilayah urban merupakan sumber utama polusi cahaya. Namun bagaimana polusi cahaya di daerah urban memepengaruhi komunitas serangga belum diketahui secara jelas. Oleh karena itu perlu dilakukan adanya penelitian yang menunjukkan bagaimana pengaruh polusi cahaya malam buatan terhadap keanekaragaman serangga aerial nokturnal di wilayah urban terhadap daerah sekitarnya. Dengan adanya penjelasan dari hasil penelitian tersebut, diharapkan tercipta acuan penggunaan sumber cahaya malam buatan, untuk meminimalisir dampak polusi cahaya terhadap keanekaragaman serangga khususnya di daerah perkotaan.

Mekanisme Pengelihatan Pada Serangga.

 Mekanisme Pengelihatan Pada Serangga

Keanekaragaman organisme nokturnal sangatlah tinggi, bahkan lebih dari 60% invertebrata merupakan nokturnal (Grubisic et al., 2018). Komunitas serangga nokturnal terdiri dari beragam jenis serangga dari kelompok pakan yang berbeda dari mulai hama, predator, hingga parasitoid (Hashim et al., 2017). Salah satu kelompok serangga tersbut adalah serangga aerial nokturnal. Dari segi kelimpahan, serangga aerial nokturnal didominasi oleh kelompok Neuroptera, Ephemeroptera, Lepidoptera, Trichoptera, Hemiptera, Coleoptera, Hymenoptera, Diptera, dan Dermaptera (Owens et al., 2019). Salah satu ciri utama yang membedakan kelompok serangga tersebut dengan serangga diurnal adalah waktu aktivitas yang berkaitan dengan adaptasi organ fotoreseptif.

Kebanyakan serangga memiliki organ fotoreseptif berupa mata majemuk dan ocelli. Mata majemuk terdiri dari unit sensitif cahaya bernama ommatidia dalam jumlah yang banyak. Sebuah ommatidium memiliki berkas sel fotoreseptor yang memanjang. Sel tersebut dapat digolongkan berdasarkan sensifitas terhadap spektrum cahaya spesifik (Shimoda & Honda, 2013). Leluhur serangga memiliki tiga tipe fotoreseptor atau opsin. Tipe pertama sensitif terhadap panjang gelombang ultraviolet (UV, 300-400 nm). Tipe kedua pada panjang gelombang yang pendek (biru, 400-480 nm). Tipe ketiga pada panjang gelombang yang panjang (hijau hingga kemerahan, 480-600 nm). Selanjutnya, serangga berevolusi berdasarkan relung dan kondisi cahaya pada lingkungan yang diikuti oleh spesialisasi sensitivitas spektrum cahaya (Owens et al., 2019).


 

Pada serangga diurnal seperti kupu-kupu dan capung, opsin berkembang untuk dapat membedakan spektrum cahaya. Berbeda secara kontras, serangga nokturnal dan subteran (afotik), seringkali kehilangan satu atau lebih tipe opsin dan mengalami pengurangan sensitivitas terhadap spektrum cahaya. Pengelihatan serangga nokturnal sangat teradaptasi dalam lingkungan minim cahaya. Pada ngengat dan sebagian kumbang nokturnal, adaptasi ditunjukan oleh kemampuan mata superposisi yang 1000 kali lebih sensitif ketimbang mata aposisi pada dimensi yang serupa. Adaptasi yang berbeda dilakukan oleh kelompok lebah, tawon, dan semut nokturnal yang memiliki ocelli yang terspesialisasi. Ocelli merupakan mata sederhana yang berguna untuk mendeteksi cahaya, pergerakan, dan orientasi. Berbeda dengan kerabat diurnalnya, serangga tersebut memiliki ukuran ocelli yang berbeda secara signifikan. Lebah dan kecoa nokturnal memiliki ocelli yang kurang sensitif terhadap sinar UV. Hal tersebut sebagai bentuk adaptasi pada lingkungan yang minim cahaya UV. Meskipun secara umum serangga nokturnal aerial beradaptasi dengan baik pada lingkungan minim cahaya, bentuk adaptasi yang dilakukan sangatlah beragam (Owens et al., 2019).

Pengertian, Jenis, dan kelas Biological Safety Cabinet

Biological Safety Cabinet

Biological safety cabinet (BSC) merupakan sebuah alat di laboratorium yang merupakan area kerja tertutup dan memiliki ventilasi. BSC digunakan untuk bekerja dengan bahan-bahan yang terkontaminasi patogen. BSC terdiri dari beberapa jenis yaitu: BSC I, II, III.

BSC kelas I merupakan jenis yang paling sederhana. BSC kelas I memberikan perlindungan terhadap operator dan lingkungan luar terhadap paparan biohazard. Namun, aliran udara dari luar ke dalam BSC memiliki kemungkinan untuk menyumbang kontaminan pada sampel. Sehingga BSC kelas I tidak dapat mencegah sampel terkontaminasi udara dari dalam. BSC ini dapat digunakan untuk bekerja dengan agen mikrobiologis yang memiliki level bahaya yang rendah seperti biosafety leve 1, 2 dan 3. Sistem filter pada BSC kelas I terdiri dari pre-filter dan HEPA (High Efficiency Particulate Air) filter. Aliran udara dari luar masuk ke kabinet yang mengandung aerosol yang terbentuk saat pengerjaan sampel. Kemudian udara dari dalam akan masuk ke dalam sistem filtrasi yang menangkap semua partikel kontaminan. Sehingga udara yang bersih dari kontaminasi dapat dikeluarkan dari BSC.

BSC kelas II memiliki 2 tipe yaitu tipe A yang terdiri dari A1 dan A2, serta tipe B yang terdiri dari B1 dan B2. Perbedaan BSC kelas II dan kelas I adalah, sampel yang berada di BSC kelas II tidak akan terkontaminasi udara dari luar karena udara yang belum terfiltrasi tidak akan masuk ke area kerja pada BSC. BSC kelas II tipe A1 memiliki tekanan positif pada kabinet dan termasuk kurang aman jika dibandingkan dengan tipe A2 yang memiliki tekanan negatif di sekeliling tekanan positif pada kabinet. Hal ini dikarenakan, jika terdapat kebocoran pada plenum positif, maka aerosol yang bocor akan ditarik kembali ke dalam plenum positif oleh tekanan negatifnya sehingga tidak akan bocor keluar kabinet. Pada tipe A2, sejumlah 70% udara dari plenum positif akan disirkulasi ulang sebagai aliran turun (downflow), sementara sisanya yaitu 30% udara akan keluar ke lab melalui filter.

BSC kelas II tipe B1 memiliki system aliran udara dengan 70% udara yang akan dibuang sedangkan 30 persen akan kembali disirkulasikan kembali kearah area kerja. Tipe cabinet ini memiliki pembuangan udara pada bagian belakang yang akan mengiliminasi udara yang tersirkulasi ulang. Zat kimia hanya boleh digunakan bila tidak mengganggu sirkulasi udara.

BSC kelas II tipe B2 tidak memiliki system resirkulasi didalam cabinet. Seluruh udara aliran masuk (inflow) dan aliran turun (downflow) yang telah memalui HEPA filter dibuang menuju lingkungan luar. Oleh karena system tersebut, cabinet tipe ini sesui untuk digunakan pada pengerjaan proses mikrobiologi yang melibatkan senyawa kimia berbahaya akibat tidak adanya resirkulasi.

BSC kelas III menyediakan fitur keamanan mutlak yang tidak dapat disediakan oleh BSC kelas I dan kelas II. Secara umum BSC kelas III dibentuk oleh komponen logam yang tersusun rapat dan bahkan gas tidak dapat keluar masuk secara bebas. Segara proses pengerjaan sampel dilakukan melalui sarung tangan yang terpasang di bagian depan cabinet. Semua kabinet kelas III memiliki pasokan udara yang telah disaring melalui HEPA filter. Sering kali udara yang dibuang akan disaring melalui HEPA filter dan dibakar atau sebagai alternative menggunakan penyaring HEPA dengan filter ganda. Semua kabinet kelas III cocok untuk digunakan

Rekomendasi

Tanya